Borgol Cinta
“Ci, jangan pake iler gitu dong liatinnya,” Raras menyenggol tanganku sehingga lamunanku buyar seketika. “Eh apa Ras?” Buru-buru kurapikan posisi duduk dan menyelipkan anak rambut di balik telinga. Menunjukkan ketertarikan pada Raras daripada orang yang kuperhatikan selama dua menit terakhir. Raras melirik bergantian antara aku dan dia lalu tersenyum. Tanpa perlu memasang mimik jahil, Raras kembali menyantap nasi padang menu makan siang kami. Perkataan berikutnya membuat aku tahu bahwa Raras memang ingin menggodaku. “Emang ganteng ya Alan,” “Alan? Siapa?” “Cowo yang lo liatin sambil ngiler itu,” Raras tertawa pelan. “Raras apaan sih ah,” wajahku pasti sudah memerah karena malu. Hal yang kerap terjadi kalau aku malu dan itu sering. Orang jadi mudah menebak bagaimana perasaanku. “Namanya Alan Primanda. Lulusan NUS. Anak baru disini, Audit,” Tanpa perlu kuminta, Raras sudah menjelaskan...